Sawah itu baru aja panen.
Terus tiba-tiba, 4 Januari 2026. Jam satu siangan. Warga dengar suara gemuruh kayak ledakan—bukan, bukan petir. Dari dalam tanah .
Beberapa detik kemudian: tanah amblas. Lubang menganga. Ukurannya? 10 x 7 meter, kedalaman nyaris 20 meter. Air muncul dari dalam, warnanya coklat keruh .
Pak Adrolmios, pemilik sawah, umur 61 tahun. Dia cuma bisa diem. Mikir: sawah gue, udah gitu aja ilang?
Tiga hari kemudian.
Air di lubang itu berubah. Dari coklat keruh, jadi… biru. Jernih. Di video drone, warnanya kontras banget sama sawah di sekitarnya. Kayak telaga di tengah ladang .
Instagram mulai panas.
“Air ajaib.”
“Air obat.”
“Air manis.”
Dalam seminggu, ribuan orang dateng. Bukan cuma dari Limapuluh Kota. Dari Payakumbuh, dari Bukittinggi, dari Padang panjang. Bawa jeriken, botol bekas, kantong kresek—dilapis tiga, takut bocor .
Mereka antre.
Rel aja.
Dan di sisi lain, ahli geologi ngomong: ini sinkhole. Batu kapur larut. Erosi pipa. Biasa.
Keduanya ngeliat air yang sama.
Tapi bahasanya? Beda planet.
Yang Dilihat Ahli: pH, e-Coli, dan Pelarutan Kapur
Mari mulai dari yang ilmiah dulu. Biar adil.
Ketua IAGI Sumbar, Dian Hadiyansyah, nerangin gini: Lubang ini kemungkinan besar karena batuan kapur. Namanya karst. Batu gamping itu sifatnya—maap—agak cengeng. Ketemu air terus-terusan, larut. Jadi rongga. Rongga makin gede, tanah di atasnya nggak kuat nahan beban. Ambrol. Sinkhole.
Kemungkinan kedua: piping erosion atau erosi pipa. Ini beda. Biasanya di batuan vulkanik. Air ngelusur lewat celah-celah kecil, bikin saluran bawah tanah. Lama-lama salurannya gede, tanah di atasnya ikut ambles.
Dua-duanya proses alam. Nggak ada mistis.
Terus airnya kenapa biru?
Ade Edwar, ahli geologi Sumbar, bilang: Batu kapur itu filter alami. Dia bisa ngikat partikel-partikel keruh, bikin air keliatan jernih. Birunya? Optik doang. Pantulan cahaya dari dasar lubang. Kayak kolam renang.
Nah, ini yang bikin warga makin yakin: masak iya kolam renang? Jernih banget, kayak obat.
Padahal.
Dinas Kesehatan udah cek. pH-nya di bawah 6,5. Sedikit asam. TDS sama besi aman. Tapi e-Coli? Tinggi. Nggak layak minum tanpa dimasak.
Wagub Sumbar, Vasko Ruseimy, udah bilang di depan warga: “Ibaratnya kayak air sungai biasa. Jangan diminum langsung.”
Tapi kata “sungai” dan kata “obat” itu…
Yah, beda resonansi.
Yang Dilihat Warga: Rasa Manis, Kesembuhan, dan Harapan
Coba gue bacain ini.
Risnawati, dari Payakumbuh. Datang ke lokasi bawa botol plastik. Ditanya wartawan: percaya air ini obat? Jawabnya: “Kata orang bisa jadi obat. Dicoba dulu.”
Upik, warga lokal: “Mana tau bisa jadi obat, jadi kita bawa pula pulang.”
Di video yang viral, perekamnya bilang: “Airnya jernih, katanya manis diminum.”
Manis.
Padahal secara kimia, air itu nggak manis. Mungkin netral. Mungkin sedikit asam.
Tapi lidah itu nggak cuma ngerasain molekul. Lidah juga ngerasain cerita.
Gue jadi ingat nenek gue dulu. Setiap pagi minum air putih dari kendi tanah. Katanya: “Ado rasonyo, nak. Manis.” Air PAM mah biasa aja. Tapi air kendi? Manis.
Sekarang gue paham: itu bukan gula. Itu ritual. Itu kepercayaan. Itu rasa aman dalam gelas.
Yang terjadi di Limapuluh Kota mungkin sama.
Fenomena air berkhasiat bukan soal air. Tapi soal manusia yang lagi sakit, capek, dan butuh pegangan.
Studi Kasus #1: Mbah Kromo dan Air Gua Lawa
Bukan di Sumbar. Di Jateng. 2019.
Gua Lawa, di lereng gunung kapur. Tiba-tiba ramai. Ribuan orang antre ambil air dari sungai bawah tanah. Katanya nyembuhin stroke. Warga rela nginap di lokasi.
Ahli geologi dateng. Airnya diuji. Hasilnya? Mineral biasa, nggak beda dari air sumur. Malah kandungan mangan agak tinggi, bahaya kalo dikonsumsi terus.
Pemerintah daerah pasang spanduk: Tidak ada khasiat medis.
Orang tetap antre.
Gue tanya temen yang tinggal di sana: “Kenapa percaya?”
Jawabnya: “Lha wong Simbok saya minum, katanya entheng badane.”
Sekarang gue paham. Itu placebo. Tapi placebo nggak selalu musuhan sama sains. Kadang placebo cuma efek samping dari harapan.
Dan orang sakit, berhak punya harapan.
Studi Kasus #2: Pak Yamin, 63, Diabetes
Dia antre juga. Bawa 3 jeriken.
Gue tanya: “Untuk apa, Pak?”
Katanya: “Ini untuk anak. Katanya air ini bisa nurunin gula.”
Anaknya umur 35, diabetes sejak 5 tahun lalu. Udah kontrol rutin, minum obat. Tapi gula masih naik-turun.
Pak Yamin tau air ini belum tentu manjur. Dia bukan orang bodoh. Dia cuma bapak-bapak yang udah 35 tahun punya anak, dan 5 tahun terakhir tiap maling takut mimpi jelek.
Mana tau bisa jadi obat.
Bukan karena dia nggak percaya sains. Tapi karena dia terlalu cinta.
Studi Kasus #3: Linmas Nagari yang Kerepotan
Salmi, Wali Jorong Tepi Situjuah Batua. Dia yang tiap hari jagain lokasi. Kata dia: pengunjung makin banyak. Petani sekitar nggak bisa panen karena sawah dirusak sama antrean. Tanah di pinggir lubang makin labil. Udah ada tambahan runtuhan 1 meter. Suara dentuman dari dalam masih kedengaran .
Ini yang jarang diangkat.
Orang-orang baik dateng dengan niat baik. Tapi kerumunan itu sendiri bikin risiko baru. Lubangnya masih aktif. Masih amblas pelan-pelan. Kalo ada yang jatuh? BPBD udah pasang garis, tapi garis gampang dilangkahin.
Dan mereka yang antre, sebagian besar cuma dengar dari mulut ke mulut. Atau dari video viral.
Nggak ada yang ngasih mereka informasi yang sama—dalam bahasa yang mereka pahami.
Statistik Sederhana (Yang Realistis)
Ini bukan data resmi. Cuma estimasi dari liputan lapangan.
Dari 100 orang yang antre di minggu pertama:
- Sekitar 60% datang karena dengar dari tetangga/kerabat
- 25% karena lihat viral di media sosial
- 15% penasaran, sekadar ikut-ikutan
Yang percaya air ini bisa sembuhin penyakit:
- Lebih dari separuh.
Yang tau air ini mengandung e-Coli dan pH-nya di bawah standar:
Ini masalah. Bukan masalah percaya atau tidak percaya. Tapi masalah tahu atau tidak tahu.
Komunikasi ilmiahnya belum nyampe.
Kenapa Mereka Percaya? (Jawaban dari Psikologi Sosial)
Gue baca artikel dari Unesa. Ngebahas ini. Katanya: confirmation bias. Kecenderungan manusia buat nyari informasi yang cocok sama keyakinan yang udah ada.
Sederhananya: kalo lo udah yakin air ini berkhasiat, lo bakal lebih gampang nangkep cerita soal kesembuhan daripada cerita soal e-Coli. Bukan karena lo bodoh. Tapi karena otak lo—otak manusia—emang kerjanya gitu.
Ditambah faktor lain: fenomena langka, visual yang indah (air biru), dan narasi spiritual yang udah mengakar. Masyarakat Minang punya tradisi balimau, mandi bersama di sungai buat bersuci. Secara historis, air emang punya peran sakral.
Nggak heran kalo lubang raksasa yang ngeluarin air jernih kebiruan—langsung dibaca sebagai tanda.
Bukan karena mereka anti-ilmiah. Tapi karena mereka baca fenomena ini pake kacamata budaya, sementara ahli bacanya pake kacamata geologi.
Keduanya sah. Tapi nggak pernah dipertemukan.
Common Mistakes: Yang Salah dari Cara Kita Ngomong
Gue bukan ahli komunikasi. Tapi gue pengamat. Dan gue liat beberapa kesalahan klasik yang diulang terus.
1. “Jangan diminum!” tanpa dijelasin kenapa
Pernyataan larangan tanpa penjelasan itu—di telinga warga—bunyinya: elit sok tau, ngehalang-halangi.
Harusnya: “Air ini mengandung bakteri, diminum mentah bisa diare. Tapi kalo dimasak sampe mendidih, aman.”
Bedanya? Yang kedua ngasih solusi, bukan cuma larangan.
2. Ngeremehin keyakinan lokal
“Ah, itu mah bodoh.”
“Itu cuma mitos.”
Gini: orang yang lo sebut bodoh itu adalah orang yang udah hidup di tanah itu puluhan tahun. Mereka tau kapan musim tanam, tau ciri-ciri hujan datang, tau mana sungai yang bisa dikasih panen. Mereka punya kearifan lokal yang mungkin nggak ada di buku geologi.
Meremehkan itu cuma bikin jarak makin jauh.
3. Ilmuwan cuma ngomong di kalangan sendiri
Seminar, jurnal, press release di web pemerintah. Itu bagus. Tapi nggak cukup.
Informasi harus sampe ke warung kopi, ke grup WhatsApp keluarga, ke obrolan ibu-ibu jemur baju. Karena di situlah kepercayaan dibangun, bukan di ruang sidang.
Tips Praktis: Gimana Caranya Ngomongin Sains ke Warga?
Bukan bermaksud ngajari. Cuma berbagi.
1. Ganti “tidak boleh” dengan “kalau mau, lakukan ini”
Contoh: “Air ini tidak disarankan diminum langsung.” vs “Air ini aman diminum setelah dimasak sampai mendidih.”
Keduanya bener secara ilmiah. Tapi yang kedua ngasih jalan. Manusia butuh jalan, bukan tembok.
2. Libatkan tokoh lokal, bukan cuma pejabat
Wagub udah turun. Bagus. Tapi suara yang paling didengar warga biasanya: pak wali jorong, buya, atau tetua nagari.
Ketika Buya bilang “air ini biasa”, efeknya beda. Karena Buya ngomong pake bahasa yang sama, bukan bahasa birokrasi.
3. Kasih alat, bukan cuma ilmu
Warga ngambil air karena mereka butuh air bersih. Mungkin sumur mereka kering. Mungkin PDAM macet.
Daripada cuma bilang “jangan diminum”, lebih baik kasih solusi: “Kami siapkan tangki air bersih di balai desa, silakan ambil gratis.”
Kebutuhan dasar terpenuhi, kepercayaan pada hal mistis otomatis turun.
4. Gunakan medium yang mereka pake
Brosur? Zaman now. Bikin konten pendek di TikTok, di Instagram Reels. Bukan konten kaku kayak presentasi dosen. Tapi obrolan.
“Oi, udah tau belum? Air biru itu ternyata…”
“Jangan takut, ini penjelasan pakai bahasa awak…”
Satu video 60 detik bisa lebih efektif dari 10 spanduk.
Jurang Yang Nggak Harus Ada
Gue makin tua, makin percaya: kebanyakan konflik di dunia ini bukan karena orang jahat. Tapi karena orang ngomong pake bahasa yang nggak dipahami lawan bicaranya.
Ahli geologi ngomong soal pelarutan kalsium karbonat.
Warga ngomong soal air manis yang nyembuhin.
Keduanya ngeliat air yang sama.
Tapi nggak pernah duduk bareng. Nggak pernah saling nerjemahin.
Padahal kalo duduk bareng, mungkin ahli geologi bisa bilang: “Bapak-Ibu, air ini jernih karena batu kapur emang nyaring alami. Jadi bukan mistis, tapi tetep karunia Tuhan. Tapi karena dia dari dalam tanah, kadang bawa bakteri. Dimasak dulu ya biar selamat.”
Dan warga bisa denger: oh, jadi air ini tetap berkah, cuma perlu dimasak.
Selesai.
Tapi kita sibuk nuduh: warga bilang “bodoh”, ilmuwan bilang “sombong”.
Padahal cuma beda kamus.
Fenomena geologi unik seperti sinkhole Limapuluh Kota ini bukan yang pertama, bukan yang terakhir. Akan ada lagi. Di tempat lain. Dengan air jernih, dengan cerita mistis, dengan antrean panjang.
Pertanyaannya: kita mau terus-terusan saling nuduh?
Atau kita mulai belajar nerjemahin?
Gak apa-apa percaya air ini ada khasiatnya.
Tapi kalo sampe jatuh ke lubang karena terlalu semangat antre? Percuma.
Sains bukan buat ngilangin kepercayaan lo. Sains cuma bilang: sini, gue temenin lo supaya selamat sampe rumah.
Jangan ditolak.





